Anies lalu mengungkapkan optimismenya bahwa dari masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, sebesar 20 persen dari generasi muda memiliki potensi untuk bersaing dengan generasi muda Singapura dan Malaysia. Namun, ia menekankan bahwa untuk mencapai potensi tersebut, pendidikan adalah kunci utama, walaupun pendidikan itu sendiri masih ternilai mahal bagi masyarakat Indonesia.
“Memang biaya pendidikan di Indonesia cukup mahal, tapi jika kita membandingkannya dengan dampak dari kebodohan dan ketidakpedulian, harganya jauh lebih besar,” kata Anies.
Menurutnya, pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, keduanya seharusnya tidak dilihat sebagai beban biaya, melainkan sebagai investasi untuk masa depan.
Bicara mengenai pendidikan, Anies menyampaikan bahwa banyak negara maju kini menyebut diri mereka sebagai ‘A Learning Nation’, sebuah bangsa yang terus menerus belajar. “Indonesia harus menuju ke arah yang sama. Dan untuk itu, kita memerlukan pendekatan yang kolaboratif,” tambahnya.
Di sisi lain, Anies mengkritik sikap pemerintah yang sering kali bekerja secara sepihak tanpa melibatkan masyarakat. Menurutnya, pendekatan kolaboratif dan berbasis gerakan adalah solusi terbaik. “Misalnya, ketika membangun sebuah kampung, bukannya pemerintah yang datang dan bekerja sendiri, tetapi seluruh warga harus dilibatkan,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu isu yang menurut Anies perlu mendapatkan perhatian lebih dan harus segera dicanangkan kebijakannya adalah politic party financing (pembiayaan partai politik). “Biaya politik di Indonesia sangat tinggi, dan ini menjadi salah satu hambatan dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan transparan,” ucapnya.
Mengakhiri diskusinya, Anies dengan tegas menekankan pentingnya kebebasan berpendapat di Indonesia. Menurutnya, ada beberapa peraturan yang bersifat ambigu dan perlu direvisi agar masyarakat bisa merasa bebas untuk mengemukakan pendapat tanpa rasa takut. Namun, ia juga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat harus tetap bertanggung jawab dan tidak boleh membahayakan orang lain.